EDISI

EDISI

Sabtu, 28 Agustus 2010

HUT Kota Jakarta

HUT Kota Jakarta

Baru-baru (Minggu, 22 Juni 2010) dipercaya, diyakini, dirayakan sebagai hari jadi Kota Jakarta. Percaya atau tidak, setuju tidak setuju, sudah sejak sekitar 60 tahun lalu, tanggal tersebut selalu dinanti warga karena berbagai keriaan yang digelar dalam rangka dirgahayu kota Jakarta ini.

Boleh sangat jadi, begitu banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui bahwa hari jadi Kota Jakarta itu hingga kini masih kontroversial.Penelitian terhadap kebenaran kapan sebenarnya kota ini lahir tampaknya tak juga dilanjutkan, sehingga 22 Juni masih tetap akan melekat dalam benak warga sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Semua ini dimulai dengan SK Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja pada Februari 1956. Surat itu memutuskan bahwa hari lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527. Angka, bulan, dan tahun itu didapat dari hasil penelitian Prof Dr Mr Sukanto dalam buku “Dari Djakarta ke Djajakarta” yang ditulis pada 1954.

Saat itu Wali Kota Jakarta Sudiro, bertugas pada 1953-1960, yang kemudian mengamini hasil penelitian Sukanto dan menetapkannya sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sukanto sebenarnya hanya melengkapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Prof Dr PA Hussein Djajadiningrat. Hussein-lah, dalam disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang pertama kali menetapkan tahun 1527 sebagai tahun kelahiran Jayakarta.

Dengan cerita singkat, pada tanggal 21 Agustus 1522 Pajajaran dan Portugis membuat perjanjian, yaitu Portugis diizinkan membangun benteng di Sunda Kalapa. Sebuah tugas yang diserahkan ke Francisco de Sa, yang sebelum menuju Teluk Jakarta bertugas menggempur Bintan terlebih dahulu. Begitu tiba di Sunda Kalapa, pasukannya sudah dihadang oleh Fatahillah yang diberi tugas oleh sultan Demak untuk mengislamkan Jawa Barat. Demikian ditulis oleh Nugroho Notosusanto dalam Dua Profesor Bertarung Tentang Hari lahir Jakarta.

Berpegang dari penelitian Hussein itu, Sukanto memperkirakan pertempuran antara Fatahillah dan de Sa terjadi Maret 1527 sehingga nama Jayakarta pastilah muncul setelah itu. Namun ternyata tak ada data kuat yang mendukung tanggal 22 Juni sebagai dimulainya nama Jayakarta. Lantas Sukanto mengambil cara dengan menggunakan perhitungan Jawa yang biasa dipakai untuk keperluan masa panen. Dalam perhitungan itu, satu tahun dibagi ke dalam 12 mangsa, dan mangsa kesatu dimulai pada tanggal 22 Juni.

Sukanto menulis, kurang lebih, demikian, “Mengingat mangsa kesatu jatuh pada Juni (bulan panen atau setelah panen), kemungkinan Jayakarta diberikan pada tanggal 1 mangsa kesatu yaitu bulan Juni tanggal 22 tahun 1527. Harinya yang pasti kita tidak dapat menemukannya.”

Hussein menolak teori itu. Menurut sarjana Islamologi ini, Fatahillah akan menggunakan hari raya Islam sebagai cantelan hari lahir Jayakarta, bukan berdasar penanggalan tradisi. Dan hari raya terdekat pada waktu itu adalah Maulid Nabi yaitu 17 Desember 1527.

Namun, perdebatan tentang hari lahir Kota Jakarta yang hirup-pikuk ini terabaikan dengan perkembangan dan pembangunan kota yang makin sibuk dengan jalanan yang semakin macet. Upaya menggali kembali kebenaran tentang kapan hari lahir Kota Jakarta makin tak tersentuh. Kesembrautan lalu lintas dari hari ke hari semakin tidak aman dan nyaman bagi pengguna jalan. Angkutan umum banyak yang tidak laik atau layak jalan akibat kurangnya perhatian untuk membenahkan dibidang angkutan umum. Sepeda motor makin hari makin menjamur, sehingga saat macet jalan trotoar menjadi alternative sepeda motor. Tidak ada lagi kesempatan untuk pejalan kaki.

Harapan masyarakat Jakarta, untuk dihari-hari depan, kiranya pemerintah DKI Jakarta dapat membenahkan kota Jakarta. (Miduk/ Tim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar