EDISI

EDISI

Minggu, 20 Juni 2010

Ratusan Orang Tertangkap

Razia Preman Dilakukan

Diatas Angkutan Umum

Pengguna angkutan umum akhir-akhir ini disetiap bus kota semakin berkurang karena jaminan keamanan calon penumpang semakin tidak nyaman dalam naik bus kota. Dinas Perhubungan Provinsi Daerah Khusus Ibukota (Prov DKI) Jakarta bersama Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) akan merazia preman yang berkedok pengamen dan pedagang asongan di dalam kendaraan angkutan umum. Operasi akan dilakukan serentak di seluruh wilayah DKI Jakarta. Disiapkan 600 anggota SatPol PP dan 300 polisi untuk menindak penjahat jalanan yang sering meresahkan penumpang angkutan umum.

Anggota SatPol PP akan disebarkan di semua rute rawan untuk memetakan kondisi lapangan. Ternyata jumlah preman sangat banyak dan tersebar di berbagai bus. Kondisi ini harus segera diatasi, kata Effendi Anas, Kepala Satpol PP DKI.

Effendi mengatakan, pihaknya akan merazia preman di 15 lokasi setiap hari. Di setiap kota, tiga rute rawan akan dirazia setiap hari. Namun, Effendi tidak bersedia menjelaskan pola dan di mana operasi tersebut akan digelar. Strategi dan pola razia ini akan dievaluasi setiap minggu untuk mendapatkan cara yang paling efektif.

Untuk mengatasi konflik dan benturan fisik dengan preman- preman yang terorganisasi, satpol PP menggandeng aparat dari Kepolisian yang memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan hukum. Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya akan menyiapkan petugas yang berseragam dan tidak berseragam untuk meredam konflik yang mungkin timbul.

”Razia akan dijalankan selama satu bulan dan diharapkan dapat membersihkan preman dari angkutan umum. Satpol PP juga akan mendapatkan bantuan tenaga dari resimen mahasiswa.”

Hasil operasi tersebut terjaring operasi praja atau razia preman sebanyak 112 pengamen yang biasa beroperasi di angkutan baru-baru ini (Senin, 14 Juni 2010). Para pengamen tersebut terjaring razia yang dilakukan di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.


Dari Jakarta Pusat terjaring 68 orang dan Jakarta Utara 44 orang. ”Mereka diserahkan ke Dinas Sosial untuk diberi pembinaan di Kedoya, kata Effendi Anas pada wartawan.

Effendi Anas menambahkan, mayoritas yang terjaring razia berprofesi sebagai pengamen. Dalam penertiban tersebut petugas berhasil mengamankan satu orang yang tertangkap tangan membawa senjata tajam. Selanjutnya pria tersebut langsung di gelandang ke Polda Metro Jaya karena kedapatan membawa senjata tajam berupa pisau saat razia di angkutan umum di wilayah Jakarta Utara, tandasnya.


Effendi Anas menegaskan, operasi yang dilakukan Pemerintah Prov DKI Jakarta adalah untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi penumpang kendaraan angkutan umum. Rencananya penertiban ini akan terus dilakukan selama satu bulan ke depan. ”Setiap hari akan dilakukan operasi, tapi waktu dan tempat akan acak di seluruh wilayah Prov DKI Jakarta.

Tatang, Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinas Sosial Prov DKI Jakarta mengatakan, razia dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap telah mengganggu ketertiban umum. Menurut dia, semua yang terjaring razia didata. ”Kami utamakan orang-orang yang ditengarai mengganggu penumpang angkutan umum. Persoalannya mereka yang terjaring operasi praja atau razia preman apakah pelaku kriminal atau bukan, nanti didata dulu. Kalau terindikasi pelaku kriminal, maka ditangani Kepolisian,” tuturnya.


Sementara HS.Budiyono Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Lalu Lintas Angkutan Jalan Suku Dinas Perhubungan (Kasie Wasdal LLAJ-Sudinhub) Jakarta Pusat saat operasi disekitar Jalan Kebun Sirih, Jakarta Pusat mengatakan, penertiban dilakukan sekitar tiga jam dalam setiap hari dan tergantung kondisi dilapangan. Dalam operasi ini sesuai dengan tugas pokok masing-masing intansi, dimana SatPol PP menertibkan para pengamen di angkutan umum dan diserahkan pada Dinas Sosial untuk pembinaan. Bila kedapatan telah melakukan pemerasan atau semacamnya prosesnya diserahkan pada Kepolisian. Sementara kendaraan yang asap tebal ditindak langsung oleh Wasdal LLAJ-Dinas Perhubungan, itulah tugas kami dari Perhubungan, tandasnya. Operasi hari ini dilakukan di tiga lokasi, diantaranya ; Jalan Kebun Sirih, Jalan Suprapto (sekitar Galur) dan Jalan Kramat (sekitar Apotik Murni). Untuk hari berikutnya lokasi atau rutenya berpindah- pindah agar tidak diketahui para preman.

Dalam operasi tersebut teknis penertiban dilakukan dengan cara menerjunkan tiga orang petugas berpakaian preman. Dua orang dari Kepolisian dan satu orang dari Satpol PP. Mereka ikut naik ke angkutan umum sejak dari tempat pemberangkatan. Setelah ada pengamen yang beroperasi,petugas langsung memberikan informasi kepada pimpinan operasi yang sudah stand by bersama puluhan personel. Kemudian, angkutan umum yang membawa pengamen tersebut distop, tuturnya Budiyono.

Wilayah Jakarta Utara, operasi praja atau razia premanisme dilakukan di tiga titik, yakni Jalan Yos Sudarso dekat halte Astra Honda Motor, depan Mal Artha Gading, dan dekat Pasar Sukapura. Dari 44 orang yang terjaring, 43 di antaranya adalah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). ”Operasi ini dilakukan untuk mengatasi masalah premanisme di angkutan umum,” kata Sulistiarto, Kepala Satpol PP Jakarta Utara.


Selain operasi praja, Satpol PP juga akan merazia PMKS di Prov DKI Jakarta yang marak menjelang datangnya Ramadhan. Operasi akan dilakukan di 15 titik. Rinciannya, Jakarta Pusat di depan Hotel Garuda Jalan Suprapto, depan Litbang Departemen Dalam Negeri Salemba, depan Dewan Pers Jalan Raya Kebon Sirih; Jakarta Utara di Mal Artha Gading, depan Honda, dan pertigaan Pasar Cakung. Sementara ini; Jakarta Barat di depan pabrik gelas Pasari, Pertamina, depan JDC Slipi, dan Universitas Trisakti Grogol; Jakarta Selatan, flyoverKaret,traffic light Santa,dan Pasar Festival Kuningan; dan Jakarta Timur yakni di halte IKIP, Pospol Cawang,dan Pospol Pemuda. (Tmsr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar